Friday, 27 February 2009

Perpustakaan, Harjo, Poltak dan Karyo

Di negeri ini, perpustakaan merupakan hal yang tidak aneh lagi. Sejak dari SD sampai perguruan tinggi terdapat ruang yang namanya perpustakaan. Bahkan, meski bukan tempat orang belajar yang formal, tetap ada perpustakaanya. Sebut saja perpustakaan desa, perpustakaan masjid, perpustakaan gereja, atau apa yang para aktifis menyebutnya perpustakaan alternatif.

Kalau dibaca dari tulisan para cerdik pandai, pembagian perpustakaan itu ada bermacam-macam. Ada perpustakaan umum dan khusus, ada perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi dan semacamnya.

Lalu apa yang ada dalam perpustakaan? tentunya ada buku. Kan perpustakaan itu berasal dari “pustaka” yang artinya buku, atau dalam bahasa arab disebut kitab.

Selain buku, ada apa lagi? ya ada pustakawan tho!. Kalau cuma ada buku, ndak ada pustakawan trus siapa yang mau melayani. Ya, melayani peminjaman. Buku di perpustakaan itu tidak dijual tapi dipinjamkan. Perpustakaan dibangun bukan untuk menjadi mercu suar yang hanya bisa dipakai oleh orang kaya, tapi semua orang. Maka, koleksinya tidak dijual atau di sewakan, tapi dipinjamkan.

Trus ada apalagi? tentu ada sistemnya. Sistem yang merangkai kegiatan perpustakaan itu.

Apakah di perpustakaan hanya ada buku saja? Ooo, tidak. Ada banyak hal di perpustakaan. Ada kaset, ada CD (maksudnya Compac Disk), DVD, bahkan mungkin juga di perpustakaan tertentu ada TVnya ada VIdeo Player, ada Cafeenya dan semacamnya.

————

Disana, di sebuah perpustakaan sederhana, tepatnya disebuah Perguruan Tinggi Ternama di negeri ini ada bermacam pustakawan. Ada yang bergelar S2, S3, S1, D3, D2. Bahkan ada yang lulusan SMA. Sebut saja Harjo, Poltak dan Karyo. Ketiganya bekerja sebagai pustakawan.

Harjo, berperawakan tidak begitu tinggi dan agak gemuk. Dari raut mukanya, harjo ini kelihatan cerdas, tapi humoris. Harjo bukan lulusan jurusan perpustakaan di perguruan tinggi. Melainkan hanya lulus SMU. Tapi jangan ditanya bagaimana kompetensi dia tentang perpustakaan. Di perpustakaan dia bekerja, dia banyak mengingat buku-buku yang dikoleksi. Bahkan kode atau tempatnya. Kadang dia juga ingat buku itu ada atau sedang dipinjam oleh siapa. Luar biasa kan?

Poltak, sosok berdarah batak ini juga seorang pustakawan di perguruan tinggi yang sama, namun beda tempat. Dia adalah lulusan program Diploma 3 perpustakaan. Sewaktu kuliah, dia dikenal cerdas, pinter. Kalau ujian dia selalu milih duduk di depan. Meskipun konsekwensinya dia bisa duduk sendirian. Kenapa? karena ketika ujian kebanyakan teman-temannya pada “merapatkan barisan” supaya bisa saling berbagi. “Pustakawan kan harus bisa berbagi informasi” itu kata-kata temannya. Tapi dia tidak. “Ah.. pustakawan harus bisa mandiri. Berbagi informasi itu antara pustakawan dengan penggguna perpustakaan, kalau berbagi yang kayak gini itu namanya mencontek” ilahnya dalam hati ketika itu.

Sementara Karyo, sama dengan Poltak dan Harjo. Dia juga pustakawan di perguruan tinggi yang sama, meskipun beda wilayah kerja. Karyo, dulu masuk kerja pertama kali memakai ijazah SMP. Maklum ketika itu bisa sekolah saja syukur. Dengan ijazah SMP ini, Karyo pertama kali ditempatkan di parkir, kemudian karena nasibnya mujur dia diminta masuk (parkiran kan diluar, masuk artinya bekerja di dalam kantor), diperpustakaan membantu seniornya yang hampir pensiun. Sekarang dialah yang bertanggungjawab akan keberlangsungan perpustakaannya. Karyo berdarah jawa. Dengan ijazah SMP, maka dia dikursuskan perpustakaan oleh kantornya. Supaya kemampuan mengelola perpustakaan meningkat. Dulu dia pernah belajar DDC, katalogisasi, pencarian, membuat tajuk subyek dan semacamnya.

Ketiganya, merupakan sahabat karib. Meski berbeda umur, ada senior ada yunior tapi karena rumah mereka berdekatan, mereka kerap bertemu dan berbincang-bincang. Kadang tentang perpustakaan, kadang tentang permasalahan umum.

Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi