Friday, 27 February 2009

Lomba perpustakaan antar Sekolah

Baru-baru ini, dengan diterapkannya Undang-undang perpustakaan banyak perpustakaan yang mulai berbenah.

Malam itu, setelah siangnya sibuk bekerja. Harjo, Poltak dan Karyo melaksanakan ronda malam sambil ngobrol di gardu kampung.

Rumah mereka bertiga terletak di perkampungan umum, bukan di perumaham mewah. Jadi suasana kekeluargaan sangat kental terasa. Poltak yang berdarah batak menjadi terpengaruh kebatakannya, sehingga agak berbau jawa dikit.

“Untuk ya kita hidup di kampung ini” celetuk Karyo.
“Iya lah, mau bikin rumah dimana lagi?, kita ini bekerjanya cuma di perpustakaan, gajinya berapa sih?” sergah Poltak.
“Ada temen-temen kita yang gajinya masih dibawah UMR, bahkan ada yang magang digaji cepek, kita masih lumayan lur, bisa kerja untuk ngasih makan anak istri” potong Harjo.

“Ya kalau kita ini pengusaha sukses, dosen yang banyak proyek atau politisi yang sukanya nrocos ngumbar janji itu, pasti rumah kita sudah mentereng di perumahan mewah berpagar tinggi” lanjut Harjo lagi.

“Bicara tentang politisi, katanya para politisi kita itu sudah membuat undang-undang perpustakaan ya” tanya Poltak kepada teman-temannya.

“Waaa, kamu itu katanya lulusan D3, kok malam tanya kepada kita yang cuma SMP dan SMA, cuma pustakawan Impassing ini, piye tho?” harjo balik tanya kepada Poltak.

Memang dinegeri ini sudah, atau tepatnya baru saja memiliku undang-undang perpustakaan. Undang-undang impian para pustakawan dan pemerhati perpustakaan.

“Memang, sudah ada undang-undang perpustakaan. Dan kita sebagai pustakawan wajib untuk membaca dan memahami serta mengamalkannya. Begini temen-teman, karena adanya undang-undang itu banyak perpustakaan yang pada berbenah. Katanya sih juga untuk menghadapi lompa perpustakaan, terutama lomba antar perpustakaan sekolah” jelas Karyo dengan bijak.

Memang, di sekolah-sekolah sekitar mereka bertiga bekerja banyak yang membenahi perpustakaanya. Agaknya magnet lomba perpustakaan sekolah yang diadakan baik dalam skala regional maupun nasional sangat berperan. Ada perpustakaan yang dilengkapi dengan TV besar, ruangan ber AC, memakai internet. Bahkan ada yang rela merogoh kocek untuk membeli perangkat lunak perpustakaan. PErangkat lunak yang selama ini dilabeli dengan Software Otomasi PErpustakaan.

“Nilainya jutaan lho” kata karyo lebih jauh.
“Ooo, bagus itu, kan perpustakaan jadi menarik, indah, sejuk dan modern. Kan ada softwarenya segala” sergah Harjo.

“Betul itu, perpustakaan akan menjadi lebih bagus lagi tentunya. Tapi begini kawan. Persoalannya bukan sekedar bagus, menarik, modern dan semacamnya. PErsoalannya adalah bagaimana memberikan pelayanan terbaik pada para pengguna perpustakaan. Dan yang paling penting lagi adalah bagaimana keberlanjutan dari program yang diterapkan itu. Jangan sampai nanti setelah lomba, perhatian pada perpustakaan jadi surut, trus perpustakaan kembali lagi pada semula, acak-acakan. Dan yang tidak kalah penting lagi adalah pustakawan sendiri harus mampu meneruskan apa yang sudah ada itu, lha jangan sampai ada alat modern nan canggih trus pustakawannya belum bisa menggunakan” terang poltak untuk menutup rasa malu atas ketidaktahuannya tentang UU perpustakaan.

Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi