Monday, 27 October 2008

, ,

Perilaku Informasi Pemakai Perpustakaan di Perpustakaan Teknik Geologi UGM

Pendahuluan



Perpustakaan mengemban berbagai fungsi diantaranya adalah penyimpanan, pendidikan, penelitian, informasi dan tamasya budaya (Qalyubi dkk, 2003:15-17). Kesemua fungsi itu selalu berkaitan dengan informasi yang disediakan perpustakaan untuk para pemakainya. Hal ini menuntut perpustakaan untuk selalu memberikan informasi kepada pemakai. Dengan demikian, koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan seharusnya dapat menjawab kebutuhan informasi para pemakai. Dalam Online Dictionary of Library and Information Science (http://lu.com/odlis/) disebutkan bahwa pemakai perpustakaan (patron) adalah setiap orang yang menggunakan sumberdaya dan pelayanan perpustakaan, meskipun tidak selalu terdaftar sebagai peminjam. Siklus kegiatan perpustakaan akan selalu menempatkan pemakai pada posisi yang penting.



Pencarian dan penggunaan informasi merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia. Mencari dan menggunakan informasi adalah bagian tetap dalam kehidupan manusia (Johnstone dan Tate, 2004). Pemakai perpustakaan melaksanakan kegiatan tersebut dalam rangka mendapatkan informasi di perpustakaan. Hal ini menunjukkan bahwa perpustakaan mempunyai peran besar dalam pemenuhan kebutuhan informasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Wersig dalam Belkin dan Vickery (1985), manusia membutuhkan informasi karena adanya problematic situation (situasi yang penuh masalah, situasi ruwet) (Pendit, 1992:75). Ini merupakan situasi yang pasti terjadi dalam diri setiap manusia. Situasi ruwet ini mendorong manusia untuk menyelesaikannya dengan mengonsumsi informasi. Setiap individu maupun sekelompok manusia sangat dimungkinkan mempunyai perbedaan perilaku informasi. Heinström (2003) mengemukakan dalam penelitiannya bahwa terdapat perbedaan dalam pencarian informasi yang terkait dengan karakter individu. Karakter individu yang ditelaah oleh Heinström adalah neurotisme, ekstrovert-introvert, keterbukaan pada pengalaman, keterbukaan terhadap kesepakatan dan sifat berhati-hati. Heinström menyimpulkan bahwa setiap individu ternyata tidak selalu memakai cara yang sama dan umum dalam setiap pencarian informasi. Meskipun keteraturan pola penemuan informasi telah banyak dikemukakan, ada pengecualian yang tidak selalu tertulis pada pola tersebut, salah satunya adalah perbedaan kepribadian. Pendapat Heinström ini diperkuat oleh Wilson (1999). Wilson bahkan memasukkan aspek sosial budaya, ekonomi politik serta peran sosial manusia sebagai aspek yang mempengaruhi perilaku penemuan informasi. Perbedaan aspek di atas, akan menghasilkan pola pikir yang mempengaruhi perilaku informasi individu. Maka, dapat disimpulkan bahwa ada banyak hal yang dapat mempengaruhi perbedaan perilaku informasi antara satu individu dengan individu lain, atau pun satu kelompok dengan kelompok lainnya. Pada akhirnya ini akan berimbas pada munculnya keragaman perilaku informasi dalam perpustakaan, yang menuntut pustakawan untuk menerapkan strategi yang berbeda pula dalam menghadapi pemakai perpustakaan.

Perilaku informasi juga merupakan hal penting dalam pembangunan dan penerapan sistem informasi. Menurut Wilson dalam Pendit (2003:28), selama ini para perancang sistem informasi selalu menyamakan kebutuhan informasi dengan bagaimana seorang pemakai berperilaku ketika berhadapan dengan sebuah sistem informasi. Pertanyaan utama dalam penelitian tentang pengguna sistem informasi adalah “Bagaimana seseorang menggunakan sebuah sistem informasi? dan bukan “Apa kebutuhan informasinya serta perilaku pencarian informasinya?”. Kenyataan ini mengakibatkan adanya jurang antara produksi informasi oleh sistem informasi dan tujuan penggunaan informasi itu (Johnstone dkk, 2004). Sistem informasi akan lebih sangkil jika pembangunannya dibentuk berdasarkan pemahaman tentang interaksi manusia-informasi pada kalangan penggunanya. Namun demikian, pembangunan sistem informasi ---saat ini dan yang telah banyak digunakan--- banyak yang tidak dipengaruhi oleh telaah atas perilaku informasi manusia (Fidel dan Pejtersen, 2004). Pemakai perpustakaan Teknik Geologi UGM terdiri dari mahasiswa, dosen, karyawan, baik dari dalam maupun dari luar lingkungan jurusan Teknik Geologi UGM, serta masyarakat umum. Beberapa jenis pemakai tersebut tidak semuanya tercatat sebagai anggota perpustakaan. Observasi awal yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa para pemakai perpustakaan mencari informasi dengan aneka ragam cara. Misalnya, dengan langsung mendatangi rak koleksi, menelusur lewat katalog terpasang, ataupun dengan terlebih dahulu menanyakan koleksi yang dicari kepada petugas perpustakaan.



Selain mencari pada koleksi-koleksi tercetak, para pemakai juga mencari informasi melalui internet. Dari pemantauan awal yang dilakukan peneliti, informasi yang dicari melalui internet ini sangat beragam. Dengan strategi penemuan yang dipahami masing-masing individu, mereka mencari informasi geologi dan nongeologi. Namun demikian, juga terjadi diskusi tentang strategi penemuan yang dipakai, baik antara sesama pemakai maupun menanyakan kepada pustakawan. Koleksi yang dicari pun beragam, mulai dari buku daras perkuliahan, surat kabar, jurnal maupun majalah National Geographic. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan informasi pemakai perpustakaan beragam mulai dari kebutuhan informasi perkuliahan sampai informasi populer. Setelah menemukan koleksi ataupun informasi yang dibutuhkan, pemakai ada yang meminjam, memfotokopi, membaca di tempat atau jika informasi itu ditemukan di internet, mereka unduh terlebih dahulu kemudian disalin dalam media rekam. Ritme kunjungan para pemakai perpustakaan selama ini dapat dipolakan. Secara umum, pada jam-jam tertentu di luar kuliah mereka akan mengunjungi perpustakaan. Hal ini biasanya terjadi setelah kuliah berlangsung. Meskipun ada juga mahasiswa yang mengunjungi perpustakaan tidak selalu sesudah kuliah berlangsung. Tentunya ada latar belakang yang menjadi dasar kenapa mereka mengunjungi perpustakaan, baik latar belakang kebutuhan informasi, maupunlatar belakang pengetahuan akan konsepsi sebuah perpustakaan, sehingga beragam perilaku informasi muncul. Pada hakikatnya, perilaku ini merupakan wujud kebudayaan. Hal ini selaras dengan makna bahwa kebudayaan mencakup segala kesadaran, sikap dan perilaku hidup manusia (Endraswara, 2006b: 21).
Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi