Monday, 16 April 2007

Pengaruh Pendidikan Terhadap Perilaku Ekonomi Perempuan





sumber http://www.ugm.ac.id/

Hasil penelitian Dra Ismaini Zain MSi menunjukkan, bahwa peluang perempuan kawin di perkotaan dalam berpartisipasi ekonomi hampir dua kali lipat daripada perempuan di pedesaan. Rendahnya peluang perempuan pedesaan dalam berpartisipasi ekonomi lebih dikarenakan rendahnya pendidikan.

Demikian staf pengajar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Intitut Teknologi Sepuluh Nopember saat ujian terbuka program doktor, di Sekolah Pascasarjana UGM, Senin, (16/4). Promovenda mempertahankan desertasi “Pengaruh Pendidikan, sikap Dan Nilai-Nilai Personal Terhadap Perilaku Ekonomi Perempuan Kawin Di Kabupaten Sidoarjo”, dengan bertindak selaku promoter Prof Drs Kasto MA dan ko-promotor Dr Suhatmini Hardyastuti MS serta Prof Dr Asip F Hadipranata.

“Pendidikan yang berpengaruh kuat terhadap perilaku ekonomi hanya pada beda antara pendidikan SMA dengan SD. Bahwa perempuan yang berpendidikan SMP belum cukup mampu untuk bersaing di pasar kerja,” ujar Ismaini Zain.

Dirinya menjelaskan, bagi perempuan di pedesaan rendahnya pendidikan telah menyebabkan peluang berpartisipasi ekonomi semakin kecil. Bagi perempuan di perkotaan yang berpendidikan SMA ke atas lebih berpeluang berpartisipasi secara ekonomi di sektor jasa daripada sektor perdagangan dan industri.

“Mereka berpartisipasi ekonomi dengan status formal dan bekerja di pasar kerja sekunder,” jelas perempuan kelahiran Surakarta, 25 Mei 1960 ini.

Kata Ismaini, sikap positif terhadap kegiatan ekonomi ditambah nilai-nilai personal yang kuat telah mendorong perempuan perkotaan untuk berpartisipasi ekonomi (faktor nilai publik). Sebaliknya, kondisi ini tidak berlaku bagi perempuan di pedesaan. Perempuan di pedesaan sampai saat ini masih sulit untuk berpartisipasi ekonomi dikarena faktor rendahnya pendidikan.

“Kalaupun mereka berpartisipasi ekonomi lebih dikarenakan kemiskinan. Selain itu, perempuan pedesaan cenderung bersikap negatif terhadap kegiatan ekonomi dikarenakan nilai-nilai personal yang lebih kuat untuk mendorong perempuan untuk tidak berpartisipasi ekonomi (faktor nilai domestik),” tandas istri Purwoko Raharjo Mulyo, ibu empat putra yang dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan, sekaligus meraih gelar doktor bidang ilmu studi kependudukan UGM. (Humas UGM).
Share:

2 comments:

  1. assalamu'alaikum...

    yah.. itulah fenomena yang terjadi di Indonesia, bagaimana perempuan di pedesaan masih kesulitan untuk mengakses pendidikan, bahkan pikiran mereka untuk pendidikan kandas karena kebutuhan ekonomi yang semakin mencekik.

    semoga penelitian ini, bisa menggugah hati banyak orang. agar pendidikan menjadi hak semua warga negara di Indonesia, sudah saatnya semua pihak peduli dan tentunya dengan dukungan dari pemerintah kewat APBN dan APBDnya

    ReplyDelete
  2. itu pake teorinya siapa ya??
    terus biasanya ekonomi kota/ wilayah...pengaruh (kaitan yang erat) terhadpa pendidikan apa ya

    ReplyDelete

Terimakasih, komentar akan kami moderasi