Sunday, 19 June 2022

,

Wadah publikasi Sivitas UGM, paling banyak di mana? Ini Datanya!

Dari sekian ribu paper ini, di mana saja wadahnya? Dan, wadah apa yang paling banyak isinya?

Saya coba unduh data dari database Scopus, lalu filter source title-nya.

Hasilnya, saya ringkaskan di bawah ini. Oia. Sebagai catatan, data ini hanya dari database Scopus, ya. 

Kenapa? Mudah nyarinya. 😂

****
Saya coba filter untuk dua jenis saja: conference dan article. 

Secara keseluruhan, prosiding menduduki peringkat paling atas. Tercatat IOP Conference Series: Earth and Environmental Science dengan 1552 paper yang sudah dikutip oleh 1322 dokumen. Peringkat 2,3,4 juga masih diduduki oleh prosiding. Jurnal baru masuk di peringkat 4.

Jurnal yang masuk di peringkat 4 ini, yang juga berarti menjadi peringkat 1 pada kategori jurnal, berjudul Biodiversitas, disusul Indonesian Journal of Chemistry. Dua jurnal yang ada di 2 tempat teratas tersebut, semuanya terbitan Indonesia. Jurnal lain terbitan Indonesia yang masuk 10-15 besar yaitu  Journal of the Indonesian Tropical Animal Agriculture, Indonesian Journal of Geography, dan Indonesian Journal of Pharmacy.

Tentu ini ada sisi positifnya. Riset-riset sivitas UGM banyak yang masuk di jurnal terbitan Indonesia. 

Daftar lengkap, silakan unduh di: https://simpan.ugm.ac.id/s/Z5j5jy4eADxwj8W. Daftar ini dapat pula digunakan sebagai telaah dalam memilih jurnal target.





Sunday, 22 May 2022

Final Rektor UGM: FT Gagal Hattrick, FK Bikin Deret Angka Cantik, suara yang njomplang, dan ke mana suara Mendikbud?

Setelah melalui berbagai tahapan, Rektor UGM 2022-2027 akhirnya terpilih. 

Prof. Ova Emilia (FKKMK) terpilih menjari Rektor lewat capaian 21 suara. Lebih dari 50%, mencapai 84%. Bahkan, jika suara Prof. Deen (3), dan Prof. Bambang (1) digabung pun tidak bisa menyaingi.

Mungkin karena  komposisi nilai inilah, akhirnya tidak ada final 2 besar.

Prof. Ova, sebagaimana saya tuliskan pada analisis saya sebelumnya, tidak masuk menjadi jago saya. Harap dicatat, ya... dalam jago menjagokan ini, saya tidak memilih calon yang potensi menangnya besar. Dua prinsip saya di pilrek 2022 dapat dilihat di sini.

Calon rektor (sumber)

Kabarnya memang Bu Ova kuat. Namun, saya tidak menjagokan siapa yang kuat dari yang lemah. Saya punya cara sendiri dalam menentukan kecenderungan.

Tetapi, setidaknya dengan terpilihnya Bu Ova, salah satu harapan saya di 2022 ini terwujud: rektor tidak lagi dari FT UGM. 

Karyo: "kok berani sekali kamu, Jo?"
Paijo: "kebebasan akademik"

***

Proses pilihan di tingkat MWA, pada Jumat 20 Mei lalu, sejauh yang saya tahu, tidak disiarkan live. Jujur saja, saya menunggu notif dari Yutub UGM. Tapi tidak ada. Bagi saya, proses penghitungan yang tidak disiarkan secara live seperti periode sebelumnya, menjadi catatan tersendiri. Setidaknya, bolehlah saya menyebut ini sebuah kemunduran.

Dari sisi hasil pun, menarik dicermati. Angka 21:3:1 ini beda jauh jika dibandingkan dengan 2017. Tahun 2017 pada tahap pertama 11:7:7, kemudian pada final 15:10. Imbang, kan? Lihat jejak skrinsutnya di sini.

Tahun 2022 ini njomplang.

Khususnya, dari hasil yang njomplang itu,  menarik menerka ke mana arah suara pemerintah (lewat Mendikbud)?

***

Oke. Saya ulang lagi: sebanyak 1 suara (4%) untuk Pak Bambang, 3 (12%) untuk Pak Deen, serta 21 atau sekitar 84% yang diraih Bu Ova.

Jika diangka-kan, berapa sih suara Mendikbud?

Berdasar ketentuan, sebanyak 35% suara milik pemerintah melalui Mendikbud. Maka, jika total angka perolehan pada calon rektor adalah 1+3+21=25, maka pemerintah memiliki 35% x 25=8,75. Dibulatkan menjadi 9.

Hitungan di atas klop juga jika dikaitkan dengan berita ini. Berita ini menyebut hadir 17 anggota MWA (termasuk Menteri), + 1 daring, sehingga total MWA hadir ada 18 orang. Dari total 18 ini, Rektor tidak memilih. Berarti tersisa 17 pemilih termasuk Menteri.

Jika Menteri memiliki  35% suara, maka  sisanya 65% dibagi kepada 16 pemilih lain. Jika 16 ini masing-masing punya 1 suara, maka dari total 25 suara, maka ada 9 suara yang dimiliki Menteri.

Klop. Clear, ya.

****

Kawan-kawan...

Karena pemilihannya secara tertutup, dan juga tidak ada live streaming, maka kita tidak tahu persis 'siapa memilih siapa'. Ya. Walau misal ada live streaming pun, meski feel-nya dapat, juga tidak diketahui siapa memilih siapa.  

Namun demikian, layaknya para pengamat politik yang otak-atik kemungkinan larinya suara rakyat atau arah dukungan parpol, tentu dari hasil pilrek yang ada juga dapat dianalisis. Atau, ya.... dapat diperkirakan.

Nah, tabel di bawah ini menunjukkan 2 kemungkinan ekstrim ke mana larinya suara Menteri.
  

  1. Jika semua suara Pak Bambang dan Pak Deen berasal dari pemerintah, maka, seperti terlihat pada "Kemungkinan ekstrim 1", suara yang bisa diberikan oleh pemerintah kepada Bu Ova maksimal ada 5 (berasal dari 9-4). Selebihnya, suara non pemerintah (16 suara) masuk ke Bu Ova.
  2. Jika semua suara Pak Bambang dan Pak Deen berasal dari non pemerintah, maka,  seperti terlihat pada "Kemungkinan ekstrim 2", 100% suara pemerintah (9 suara) masuk ke Bu Ova. Sisanya dukungan dari non pemerintah sebanyak 12 suara.

Dua kemungkinan ekstrim di atas menunjukkan kemungkinan suara pemerintah ke Bu Ova minimal 5, dan  maksimal 9.

Kemungkinan lainnya tentu ada. Namun, angkanya ada di antara 5 sampai 9, sebagaimana saya tulis di atas. 

Jika rekan-rekan melihat rekaman yang tersebar di medsos, ada yang unik lagi. Perolehan Pak Bambang dan Pak Deen, muncul pada pembacaan akhir, dan berurutan. Sehingga, agaknya beralasan juga jika suara keduanya dari 1 pemilih yang sama. Saya juga membayangkan, betapa deg-deg-annya beliau berdua.

***

Nah!
Dari komposisi perolehan suara yang begitu njomplang inilah, kita bisa ambil beberapa catatan atas proses pemilihan rektor ini.

  1. Pertama: dukungan pemerintah dan non pemerintah ke Bu Ova besar. Ini jadi modal besar agar rezim rektor 2022-2027 kuat. Namun, yang harus diingat, muruah UGM sebagai perguruan tinggi. Jangan sampai karena besarnya dukungan, khususnya pemerintah, jadi lembek  dan tidak kritis atas kebijakan pemerintah.
  2. Kedua: ada kemungkinan presentasi calon rektor (carek) dan dinamika forum di MWA sangat gayeng. Pada presentasi, Bu Ova mampu menunjukkan kualitasnya, jauh dari dua kandidat lainnya. Hal ini menjadikan para anggota MWA mayoritas mengarahkan suaranya kepada Bu Ova. Termasuk Mendikbud, dengan kemungkinan jumlah suara seperti pada tabel.
  3. Ketiga: suaran njomplang juga bisa (kemungkinan) akibat kekurangsuksesan Pansel dalam menjaring para calon untuk mendaftar, hal ini ditunjukkan dari jumlah bakal carek yang menurun dibanding periode sebelumnya.
  4. Keempat: kegagalan Senat Akademik dalam memilih kandidat yang seimbang kualitasnya untuk dibawa dan dipilih di tingkat MWA. 
  5. Kelima: melihat suara yang njomplang, perlu jiwa besar bagi calon yang tidak terpilih.
  6. Keenam: agaknya saya ndak kuasa ngetik. Ngantuk juga, sudah hampir tengah malam. Khusus yang keenam ini, mungkin jika ketemu kita bisa obrolkan sambil minum air putih. 😉

Karyo: "Jo. Kok kamu berani menulis analisis di atas?"
Paijo: "lho, memang apa salahnya, Kang?"

***

Terpilihnya Bu Ova menjadi Rektor, juga melahirkan catatan rekor. Pertama, FT tidak jadi mencetak hattrick. Kemudian, Bu Ova sebagai dosen FK ke-3 yang menjadi Rektor UGM, mencatatkan angka cantik 17, gabungan dari 1 dan 7. 

Angka 1 mewakili Rektor Pertama UGM yang berasal dari FK, Prof. Sardjito. Angka 7 mewakili angka urut Rektor ke-7 UGM, yang juga dari FK yaitu Prof. T. Jacob. Angka 17, gabungan dari 1 dan 7, merupakan angka urut Bu Ova sebagai rektor ke 17 UGM.

Bu Ova, yang seorang dokter, terpilih di 20 Mei 2012, tepat di hari kebangkitan nasional. Kebangkitan nasional juga ditandai dengan organisasi Budi Oetomo tahun 1908, sekitar 104 tahun lalu,  yang digagas para dokter STOVIA.

Semoga hal di atas juga menjadi pertanda kebangkitan UGM.

Sebagai putri dari guru besar yang juga rektor di dua perguruan tinggi terkemuka, bahkan tidak hanya satu periode, Bu Ova, tentu diharapkan bisa menahkodai UGM menjadi lebih baik lagi. Meneladani Sang Ayah, menjunjung integritas.

Selamat bekerja, Bu Rektor!

Dan selamat juga untuk FKKMK, yang akan punya dekan (yang benar-benar) baru.


Penutup
Sidang pembaca, tulisan ini murni otak atik saya dari data publik. Sekali lagi, ini juga bagian dari latihan nulis dan menganalisis dari data yang terbuka. Juga sebagai bentuk kebebasan akademik.

Selain itu, apa yang saya lakukan sangat terkait erat dengan profesi saya: pustakawan. Juga sebagai arsip. Memudahkan jika ada yang bertanya.

Saya sedang belajar, untuk tidak sekedar menyajikan data atau info sebagaimana adanya. Namun juga sebisa mungkin menyertainya dengan visualisasi, juga tafsir atau interpretasi. Tentu, agar pembaca bisa lebih kaya lagi saat menerima informasi dari saya.

Salah sangat dimungkinkan. Sehingga tafsir itu sangat bisa didialogkan. 

Bukankah begitu seharusnya?

Bagi yang kurang sepakat, jangan marah, ya.... Santai saja. Boleh kita obrolkan sambil minum air putih bersama.


[[ selesai ]]

Bumi Sambisari,
22 Mei 2022
23:14 malam



Me-review OPAC UIN Sunan Kalijaga, sebagai perpus yang pernah dapat MURI, ini catatan saya...

Kawan...

Malam-malam saya penasaran dengan katalog Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Ya. Sebagai perpustakaan terbaik se Indonesia, tentu menarik belajar dari Perpus UIN SK. Alamat OPAC-nya ada di https://opac.uin-suka.ac.id/.

Kenapa saya sebut perpustakaan terbaik? Karena dapat rekor dari MURI, pada 2012 (10 tahun lalu) sebagai pelopor penggunaan RFID di perpustakaan. 

Nah, apa yang saya peroleh dari proses review ini? Ndak banyak sih. Saya coba perlihatkan di bawah ini. 

tampilan depan

Hmm, menarik, ya. Ala Google. Cuma ada satu kolom pencarian saja. Simple, sederhana. 

Saya coba tuliskan kata kunci psikologi sosial. Saat menampilkan hasil, tampilannya halus. Leerrrr. 

Hasil pencarian

Paling atas, pada laman hasil pencarian dilengkapi dengan definisi dari kata kunci yang ditulis. Definisi (seperti tertulis) diambilkan dari Kamus Bahasa Indonesia. Sayangnya, tidak ada keterangan kamus mana yang datanya diambil. Tapi, ya... cukuplah buat bahan informasi awal.

Berikutnya...

Terdapat fitur similar. Namun setelah saya klik dari hasil agaknya yang muncul hanya bergantian saja urutannya. Hmm, saya belum menemukan kelebihan fitur ini.

Berikutnya....

Info ketersediaannya koleksi ndak ada. Info ketersediaan ini sebenarnya sangat bermanfaat bagi pemustaka. Berbagai perpustakaan justru mencantumkannya di katalog.  Ketika UIN Sunan Kalijaga justru tidak mencantumkan, ini menarik.

Apakah tren menghapus info ketersediaan ini akan diikuti perpustakaan lain? 

Tentu kemungkinan itu ada. Sebagai acuan tren, tentu banyak yang melihat untuk pembanding. Dan tentu saja, keputusan tidak adanya ketersediaan koleksi di katalog ini telah melalui kajian ilmiah.


Berikutnya...

Informasi koleksi, pada setiap judul, ditampilkan dalam bentuk narasi. Nilai plusnya, jadi terasa ada interaksi yang dekat dengan mesin.

Namun, saya merasa model ini jadi bertele-tele. Coba saja, kita malah harus membaca runtut untuk dapat informasi. Boros waktu. Saya kira lebih tepat justru dalam bentuk point-point. Mata melihat, langsung dapat.

Berikutnya...

Apa pentingnya informasi "... menjadi koleksi perpustakaan sejak 2 Januari 2015" bagi pemustaka?


Berikutnya...

Tidak saya temukan URL yang mengarah ke tiap koleksi. URL yang tampil dan dibuka hanya https://opac.uin-suka.ac.id/?.

Hal ini mengakibatkan kesulitan jika hendak memberi rekomen koleksi buku pada orang lain. Tidak bisa ngirim URL. Harus sekrinsut.

Tentu saja, ini juga boros waktu.

Berikutnya...

Saya tidak menemukan pembagian halaman dari hasil pencarian. Jadi, berapapun hasilnya akan tampil pada 1 halaman.

Ini menarik. Saat Google menerapkan pembagian halaman, OPAC UIN Sunan Kalijaga justru tidak. 

Berikutnya...


Agaknya masih ada beberapa pilihan kata yang harus diubah. Tidak baku. 



***

Namun demikian, sebagai sebuah perpustakaan yang ada di universitas yang memiliki Prodi Perpustkaaan sejak S1, S2, sampai S3, tentu saja tampilan di atas sudah melewati kajian ilmiah sesuai kebutuhan pemustaka.


[[ selesai ]]








Friday, 20 May 2022

Inilah usia rektor UGM saat mulai menjabat, siapakah rektor termuda?

Rekan yang berbahagia....

Tepat di hari pemilihan Rektor UGM 2022, Jumat 20 Mei 2022, saya selesaikan artikel ringan ini.

Sebenarnya mau mengomentari rektor terpilih, tapi agaknya perlu cukup waktu mencari bahan analisis. Apalagi beda dengan 2017, yang saat itu pemilihan disiarkan live. Beberapa jejak digitalnya ada di sini. Pemilihan tahun 2022 ini, sampai saya menulis artikel ini, saya tidak menemukan adanya live streaming.

Tanpa live streaming, deg-deg-annya kurang. Kurang nendang. Ya. Meski jago saya tidak masuk 3 besar, namun saya pengen lah merasakan suasana deg-deg-annya.

Ah. Agaknya bolehlah saya menyimpulkan, bahwa ada satu titik kemunduran di pilrek UGM 2022 ini: tidak ada live streaming.

hh.

Okelah. Saya selesaikan tulisan ringan ini saja.


Inilah daftar Rektor UGM dan usia saat awal menjabat. Data tahun menjabat diperoleh dari laman Wiki. Data tahun lahir juga diperoleh dari Wiki, dari tautan di sini. Khusus Bu Ova, saya peroleh dari laman Dewan Guru Besar UGM.

Usia saat dilantik dihitung dari tahun awal menjabat dikurangi tahun lahir. Saya hanya menghitung tahun, tanpa mempertimbangkan bulan dan tanggal lahir.
  1. Prof. Sardjito diangkat jadi rektor tahun 1949, saat usia 60 tahun
  2. Prof. Herman Johannes diangkat jadi rektor tahun 1961, saat usia 49 tahun
  3. drg. M. Nazir Alwi diangkat jadi rektor tahun 1966, saat usia 43 tahun
  4. Drs. Soepojo Padmodipoetro MA  diangkat jadi rektor tahun 1967, saat usia 45 tahun
  5. Prof. Dr. Soeroso H. Prawirohardjo MA diangkat jadi rektor tahun 1968, saat usia 33 tahun
  6. Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo MA diangkat jadi rektor tahun 1973, saat usia 42 tahun
  7. Prof. Dr. Teuku Jacob MS, DS diangkat jadi rektor tahun 1981, saat usia 52 tahun
  8. Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri S.H, M.L diangkat jadi rektor tahun 1986, saat usia 60 tahun
  9. Prof. Dr. Ir. Mohammad Adnan diangkat jadi rektor tahun 1990, saat usia 57 tahun
  10. Prof. Dr. Soekanto H. Reksohadiprodjo M.Com  diangkat jadi rektor tahun 1994, saat usia 54 tahun
  11. Prof. Dr. Ichlasul Amal MA  diangkat jadi rektor tahun 1998, saat usia 57 tahun
  12. Prof. Dr. Sofian Effendi MPIA diangkat jadi rektor tahun 2002, saat usia 57 tahun
  13. Prof. Ir. Soedjarwadi M.Eng, Ph.D diangkat jadi rektor tahun 2007, saat usia 60 tahun
  14. Prof. Dr. Pratikno M.Soc.Sc. diangkat jadi rektor tahun 2012, saat usia 50 tahun
  15. Prof. Ir. Dwikorita Karnawati M.Sc., Ph.D diangkat jadi rektor tahun 2014, saat usia 50 tahun
  16. Prof. Ir. Panut Mulyono M.Eng., D.Eng. diangkat jadi rektor tahun 2012, saat usia 57 tahun
  17. Prof. Ova Emilia, terpilih menjadi rektor pada tahun 2022, saat usia 58 tahun.
Dari data di atas, jika hitung, rata-rata usia rektor saat dilantik/terpilih 884/17= 52 tahun.

Dari angka rata-rata ini, terdapat 1 orang yang terpilihnya tepat di angka rata-rata, yaitu Prof. T. Jacob (rektor ke-7). Sementara itu, yang di atas rata-rata ada 9 orang, dan 7 orang di bawah rata-rata.

Hmm, bolehlah saya menyimpulkan, bahwa UGM banyak dipimpin golongan tua.

Jika dilihat dari grafik box plot di atas, jelas terlihat ada angka pencilan di bawah rata-rata. Angka tersebut yaitu 33. Inilah usia paling muda saat diangkat rektor UGM.

Usia 33 ini milik Prof. Dr. Soeroso H. Prawirohardjo, yang berasal dari Fisipol. Dari laman Wiki, Prof. Soeroso juga pernah menjabat Dekan Fisipol pada usia 31 tahun.

Nah. Agaknya, usia 33 tahun milik Prof. Soeroso saat terpilih/dilantik/mulai jadi rektor ini, akan sulit ditandingi.

-- selesai --




Saturday, 14 May 2022

Tiga calon rektor, seandainya saya anggota MWA, saya akan pilih siapa?

Sumber ini
Enam bakal carek UGM  2022-2027 mengerucut menjadi 3. Pengerucutan ini dilakukan  oleh SA aka Senat Akademik. Tiga ini kemudian disebut sebagai calon rektor (carek).

Tiga carek tersebut (urut abjad nama) Prof. Bambang Kironoto (FT), Prof. Deendarlianto (FT), Prof. Ova Emilia (FKKMK).

Tiga carek ini, nanti akan diserahkan ke MWA untuk "diadu", dan disusutkan menjadi 2. Semacam semi final. Dua carek hasil semi final, akan difinalkan. Pemenangnya menjadi rektor terpilih 2022-2027.

Dari informasi di akhir berita ini, 3 carek di atas memperoleh nilai di atas 6.600. Prediksi saya, nilai ketiganya tidak jauh terpaut.

Nilai di atas, jika dirunut pada peraturan MWA nomor 3 tahun 2016 pasal 16, terdiri dari 5 bagian . Jelasnya bisa dilihat di bawah ini (nomor 2 a s.d. e).


****
Rekan-rekan, siapapun yang jadi rektor, agaknya akan muncul beberapa rekor.

Pertama, jika Prof. Bambang atau Prof. Deen terpilih, maka FT UGM akan mencatatkan diri sebagai fakultas pertama yang menempatkan dosennya sebagai rektor 3x berturut-turut.
Kedua, jika Prof. Ova yang terpilih, maka beliau akan jadi rektor perempuan pertama yang terpilih melalui proses pemilihan sejak awal.

Nah, jika saya jadi anggota MWA, saya akan pilih siapa?

*****

Sebenarnya ini pilihan sulit. Saya punya dua prinsip pada Pilrek tahun ini. Pertama ingin kepemimpinan UGM berpindah ke soshum. Atau minimal tidak lagi FT UGM. Kedua: saya juga tidak pada jalur yang sepakat jika ada seorang Dekan yang belum menyelesaikan jabatannya, malah pindah melamar jabatan yang lebih tinggi.

Sehingga saya harus berhitung. Dan....

Sepertinya, jika saya anggota MWA, saya akan memberatkan pertimbangan kedua. Tidak akan memilih  yang masih menjadi dekan aktif. Kenapa? Ya.. saya akan berikan kesempatan kepada beliau untuk menyelesaikan jabatan struktural yang pernah dilamarnya (atau dia bersedia mengembannya). 

Saya kira, penyelesaian sesuatu yang pernah diminta, merupakan bagian dari integritas dan konsekuensi yang harus ditunjukkan oleh para akademisi, sebagai contoh praktik baik untuk semuanya. 

Ibarat sudah minta minum susu, setelah diberi maka dia harus minum sampai habis. Tidak boleh  tergoda pada tawaran secangkir coklat panas + pisang goreng, kemudian mengembalikan sisa susu yang sudah diminum.

*****

Dari asal carek, yaitu FT-FT-FK(KMK), saat semi final di MWA akan menghasilkan kemungkinan 3 formasi final. Pertama FT1-FT2, kemudian FT1-FK, terakhir FT2-FK.

Atau jika dituliskan namanya: Bambang-Deen, Bambang-Ova, serta Deen-Ova.

Berdasar pertimbangan yang saya jabarkan di atas, karena berdasar info ini Prof. Ova masih menjabat dekan,  maka jika finalnya Bambang-Ova, tentu saya akan pilih Bambang. Jika finalnya Deen-Ova, maka saya akan pilih Deen. Sekali lagi, ini karena saya ingin yang aktif jadi Dekan, habiskan dulu masa jabatannya. Aja di lepeh.

Bagaimana jika finalnya Bambang-Deen?

***

Prof. Panut (lahir 1960), saat terpilih menjadi rektor tahun 2017 pada usia 57 tahun. Prof. Dwikorita (lahir 1964), ditetapkan menjadi rektor pada 2014 pada usia 50 tahun. Prof. Pratikno (lahir 1962) terpilih tahun 2012 pada usia 50 tahun. Prof. Sudjarwadi (lahir 1947) terpilih sebagai rektor pada 2007 saat usia 60 tahun . Prof. Soffian Efendie (lahir 1945) terpilih sebagai rektor tahun 2002 pada usia 57 tahun. Prof. Ichlasul Amal (lahir 1942) menjadi rektor pada 1998 saat usia 56 tahun. 


Pada pilrek 2022 ini, jika Prof. Bambang terpilih, maka beliau (lahir 1963) akan terpilih pada usia 59 tahun. Jika Prof. Deen yang terpilih, maka (lahir 1972) akan terpilih pada usia 50 tahun. 

Melihat tua-muda, dan juga presentasi serta komitmen integritas yang disampaikan pada penjaringan aspirasi bakal carek UGM 2022, jika saya anggota MWA akan memilih Prof. Deen. Secara usia, sejak periode tahun 1998, usia 50 tahun merupakan usia paling muda menjadi rektor.

Pada jaman (yang katanya) VUCA ini, rektor muda sangat diperlukan. Dia bisa jadi jembatan generasi muda dan generasi tua. Update isu terkini tentu juga lebih mudah. 

*****

Tentu saja, siapapun yang terpilih saya tetap akan kerja-kerja-kerja sebaik-baiknya. Juga tetap membaca, dan bergembira.

Oia. Jangan lupa. Menteri punya 35%  suara.

Dan, harap diingat pula, bahwa saya saat ini bukan anggota MWA. 😆


Salam sejahtera!

Saturday, 30 April 2022

Beberapa hal yang bagi saya menarik pada penjaringan aspirasi bakal carek UGM 2022

Rekaman dapat dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=vhw_F8nI7JM

Sesi presentasi 

Prof. Sigit Riyanto

Analisis SWOT Prof. Sigit

Bagi para bakal carek, menganalisis SWOT tentu harus lengkap. Dari S sampai T. Namun, bagi pemirsa, saya misalnya, ketika mencermati SWOT yang dipaparkan,  tidak harus melihat semuanya.

Kekuatan, ya biarkan saja sebagai kekuatan. Toh sudah kuat. Yang manarik saya, justru di kelemahan, dan tantangan.

Nah, dari paparan Prof. Sigit, saya tertarik dengan point "kebijakan sering dipengaruhi pihak luar", serta tidak disertai EBP maupun marwah (muruah?) UGM.

Paparan ini bisa dicermati pada rekaman detik 1:12:00.

Tentu saja, Prof. Sigit tidak asal dalam mencantumkan point ini. Pasti ada hal-hal yang jadi dasarnya.

Kemudian, pada bagian tantangan, hal menarik ada pada bagian penuruhan demokratisasi dan kebebasan akademik.


 Prof. Bambang Kironoto


Prof. Bambang memulai program dari RIK UGM. Mungkin karena Prof. Bambang merupakan bagian dari rezim rektor saat ini, sehingga sungkan jika harus terang-terangan menyampaikan kelemahan dalam bentuk SWOT, misalnya. 

Prof. Bambang banyak memaparkan program kerja. Prof. Bambang juga menyebut "sedang atau sudah dijalankan", "sudah ada", dll. Agaknya ingin menunjukkan kepada publik bahwa apa yang menjadi programnya punya keterkaitan, sudah dimulai, sudah ada bukti pada periode saat ini. 

Hal ini juga diperkuat dengan menampilkan gambar desain pengembangan kampus yang sedang berjalan. 

Istilah yang digunakan pun, memakai istilah yang "menyentuh". Misalnya "sejahtera", dan "bahagia". Silakan lihat di sini.

Ya. Agaknya ingin menonjolkan posisinya yang saat ini menjabat sebagai WR, mencitrakan diri (lebih) memahami persoalan.


Prof. Deendarlianto


Prof. Deen memulai dengan RIK dan Statuta. Setelah itu, menampilkan tantangan eksternal dan internal UGM. 

Saat memaparkan tantangan ini, Prof. Deen mengambil kesempatan untuk menggarisbawahi "anak muda" yang merupakan pembelajar yang berani mengambil risiko. "Muda" dalam hal ini agaknya ingin mengarahkan publik pada sosok dirinya yang merupakan bakal carek termuda.

Prof. Deen tidak secara tegas menyampaikan weakness dari UGM saat ini yang perlu perbaikan.

Beberapa program unggulannya, khususnya terkait riset, sangat dengan dengan ilmu keteknikan. Renewable energy, misalnya. Paparan (selain video) Prof. Deen dapat dilihat di sini.


Prof. Ova Emilia


Prof. Ova mengawali paparan dengan penggambaran ideal UGM yang tidak hanya mengakar dan menjulang, namun juga berbuah dan berbunga.

Jika ditengok ke belakang, bisa jadi ini merupakan kritik yang halus pada jargon UGM selama ini, yang hanya sebatas "mengakar kuat menjulang tinggi". 

Prof. Ova memanfaatkan waktu untuk menyampaikan garis besar programnya.


Prof. Ali Agus



Prof. Ali mengawali paparan programnya dengan menampilkan point hasil belanja dari sarasehan UGM Nyawiji.

Prof. Ali menyebutnya sebagai tantangan, yang dibagi menjadi internal dan eksternal. Dari sinilah 9 isu pokok dirumuskan, kemudian dijabarkan dalam 5 program kerja, 5 kebijakan strategis dan 5 kebijakan operasional.

Runtut.

Sebagai ciri khas, dibanding bakal carek sebelumnya, Prof. Ali menyampaikan (semacam) jargon komitmen: tidak bohong, tidak curang. 

Melihat jargon di atas, saya berfikir: pasti penegasan dalam bentuk jargon ini ada latar belakangnya.

Ini menarik!


Prof. Teguh Budipitojo



Prof. Teguh mengawali presentasi dengan menanggapi komentar bahwa rektor harus yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Menurutnya, yang harus selesai dengan dirinya sendiri itu ya UGM itu sendiri, kemudian UGM harus fokus pada bangsa dan negara. Hmm. Mungkin maksudnya UGM harus sudah selesai dengan masalah internalnya sendiri, dan harus sudah lebih fokus ke masalah Indonesia, bangsa dan negara.

Silakan cermati di sini.

Menariknya, program kerja pertama Prof. Teguh (yang didasarkan pada RIK, Kebijakan Umum, Renstra) tetap masih berkutat pada penguatan internal. Artinya, Prof. Teguh mengakui bahwa UGM belum sepenuhnya selesai dengan dirinya sendiri.


Sesi tanya jawab #1

Huh. Ketika saya menulis ini, waktu menunjukkan tengah malam. Saya tidak mampu lagi mencermati 1/1. Silakan tonton mulai menit 2:40:00.

Saya langsung loncat ke pernyataan penutup para bakal carek saja. Para pernyaan penutup ini, ada yang menyampaikan resum dalam bentuk pernyataan dan garis besar. Namun ada juga yang masih mengambil kesempatan menyampaikan (ulang) point-point implementatif.

Prof. Sigit Riyanto:

  1. Penekanan bahwa UGM harus menjadi  rujukan akademik, juga penanda kemajuan peradaban Indonesia

Prof. Bambang Agus:

  1. Penekanan pada penghasilan mahasiswa yang memiliki jiwa socio entrepreneur

Prof. Deendarlianto

  1. Penekanan komitmen akan menjalani proses secara etis; dan jika terpilih akan menempatkan diri pada posisi independen dari kepentingan politik dan semacamnya
  2. Jaminan mahasiswa tidak ada yang putus kuliah karena biaya
  3. Komitmen membawa UGM masuk 200 besar dunia, 50 asia, 10 ASEAN

Prof. Ova Emilia

  1. Yang baik diteruskan, yang perlu dibenahi agar dibenahi

Prof. Ali Agus

  1. Mendukung siapapun yang terpilih

Prof. Teguh Budipitojo

  1. Mohon maaf kepada SA karena tidak sowan, atau WA, untuk menjaga independensi. 
  2. Komit mengikuti seluruh ketentuan seleksi bakal carek UGM, dan menerima apapun hasilnya

Catatan penting pada sesi presentasi:

  1. Prof. Sigit berani menampilkan SWOT, dan mengritisi kondisi UGM saat ini. SWOT ini kemudian diturunkan pada program. Sayangnya, karena waktu yang singkat, program kurang dapat tersampaikan.
  2. Prof. Bambang menampilkan proker yang rinci + memanfaatkan posisinya saat ini untuk menyajikan data
  3. Prof. Deen juga menampilkan proker yang cukup rinci
  4. Prof. Ova menawarkan program yang mengarah pada metafora  UGM yang berbuah lebat dan berbunga indah
  5. Prof. Ali menegaskan dirinya, jika terpilih menjadi rektor, akan menyelesaikan amanah sampai selesai, tidak akan melirik atau tergoda jabatan lain
  6. Prof. Teguh menyampaikan proker dalam bentuk garis besar. Hal menarik, Prof. Teguh menyinggung penyiapan talenta muda untuk menuju nobel prize. 
  7. Sebagian besar bakal carek, menyoroti tata kelola, yang mengindikasikan adanya kegemukan struktur, bahkan tumpang tindih

****

Yang perlu disadari dari proses ini yaitu penentuan rektor ini melalui proses pemilihan, bukan ujian. Pemilihan, bagi saya, merupakan proses politik. Proses yang dimungkinkan ada hal-hal yang tak terlihat oleh publik,  namun digunakan  sebagai pertimbangan oleh para pemilik suara.

Yang pasti, bagi saya yang cuma kroco ini, rektor harus tahu benar-salah dan baik-buruk, tidak sekedar untung-rugi.

Sekian.



Tuesday, 26 April 2022

Inilah Calon Rektor UGM versi Netizen di Live Chat Youtube

Sumber gambar: Yutub penjaringan aspirasi

Panitia Seleksi Rektor UGM menyelenggarakan Penjaringan Aspirasi, yang diisi dengan presentasi para bakal calon rektor (carek).

Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 26 April 2022 ini bisa dilihat recordnya di https://www.youtube.com/watch?v=vhw_F8nI7JM.

Nah, ketika pelaksanakan penjaringan, para pemirsa youtube juga saling menyapa di chat. Selain itu, mereka juga menyebut calon jagoannya.

Nah (lagi)!. Kita lihat peta suara para netizen yang muncul di live chat ini.

Wordcloud dari Live Chat

Saya copas chat tersebut, lalu saya masukkan ke https://wordart.com/create. Saya ambil apa adanya, lalu muncullah tampilan di atas.

Kata "prof" paling banyak muncul. Wordart merekam sebanyak 141x. Agaknya, para netizen menyebut para kandidat ini dengan jabatan fungsionalnya. Sebagai bentuk penghormatan. Memang. Enam bakal carek merupakan pendekar pada bidangnya masing-masing. Semuanya telah meraih gelar profesor.

Bagaimana dengan kemunculan nama-nama bakal carek?

Wordart merekam penggalan nama para bakal carek. Mulai dari Ali, Agus, Aguss, Bambang, Sigit, Deen, Deendarlianto, Ova.

Agus (29), dan Aguss (1). Keduanya bisa jadi bagian dari "Ali Agus", atau "Bambang Agus". Namun, karena Ali Agus bisa diwakili dengan Ali, dan Bambang Agus bisa diwakili oleh Bambang, maka kata agus  dan aguss ini bisa dikeluarkan dari statistik.

Nah. Dari nama-nama para bakal carek, paling banyak disebut nama "Ali", yang mengarah ke nama Prof. Ali Agus. Ali disebut sebanyak 51x.

Berikutnya Ova (41), Teguh (16), Bambang (16), Sigit (13), Deen (11), Deendarlianto (1). Selain itu, ada BAK sebanyak 4x. Agaknya BAK ini merupakan kependekan dari Bambang Agus Kironoto.


Lalu, siapa yang akan menang?

WMA yang menentukan!

---

Grenengan lain tentang rektor UGM ada di http://www.purwo.co/search/label/rektor%20ugm






Sunday, 24 April 2022

Strategi para bakal calon rektor UGM untuk menegakkan integritas akademik

Minggu sore, sambil menunggu buka puasa, iseng melihat CV para bakal calon rektor (carek) UGM di laman https://seleksirektor.ugm.ac.id

Tentu saja, CV ini memuat banyak informasi. Mulai dari data diri, serta jawaban atas pertanyaan yang disodorkan panitia seleksi rektor.

Tentunya menarik dianalisis. Namun, jika hendak dianalisis semua, tentu makan waktu lama. Selain itu, saya juga ngilo githok: saya itu siapa. Hanya warga biasa (biasa saja). Dan, tentu  yang wajib melakukan analisis keseluruhan itu para anggota Senat Akademik, sebelum hasilnya disodorkan ke MWA. Di tangan MWA--yang terdapat 30-an% suara menteri dikbud--itulah rektor UGM berikutnya ditentukan. Hehe.

Saya iseng saja fokus pada beberapa hal yang membuat saya tertarik. Sekalian buat latihan nulis.

***

Pada form yang menyatu dengan CV para bakal carek tersebut, ada bagian yang harus diisi. Bagian ini menarik perhatian saya. Begini kurang lebih:

Strategi Bapak/Ibu untuk menangani isu integritas dan kecurangan akademik serta plagiarisme. (Tuliskan antara 100-250 kata)

Ya. Isu integritas tentu menjadi isu--yang bagi saya--utama di perguruan tinggi. Semua hal yang dilakukan sivitas akademika--dosen dan mahasiswa--ditopang oleh integritas akademik.  

Karyo: "Lho, tenaga kependidikan kok tidak dimasukkan?
Paijo: "Tenaga kependidikan tidak termasuk sivitas akademika, Kang!"

Apalagi, beberapa waktu lalu--dan juga waktu sebelumnya--muncul kasus yang menyerempet integritas. Salah satunya plagiarisme yang ditengarai dilakukan oleh salah satu alumnus, yang penyelesaiannya--agaknya--tidak memuaskan semua orang. Atau paling tidak, masih ada ganjalan-ganjalan.

****

Nah, saya coba lihat jawaban para bakal carek atas pertanyaan tersebut.

Saya ambil kata kunci dari jawaban para bakal carek, lalu dijadikan format RIS menggunakan Zotero. Selain kata kunci, saya masukkan juga nama bakal carek. Hal ini untuk mempermudah analisis klasternya. Hasilnya saya visualkan menggunakan VosViewer.

Dataset dalam bentuk RIS, bagi yang ingin melakukan verifikasi,  dapat diunduh di sini. Berikut ini hasilnya.


Klaster strategi para bakal carek terkait integritas dan penanggulangan plagiarisme

Termasuk nama, terdapat 37 kata kunci. Kata kunci ini sebagian besar saya biarkan apa adanya, tidak saya seragamkan berdasar maknanya. Artinya saya gunakan apa yang ditulis oleh masing-masing bakal carek. Kecuali (semoga tidak keliru) software yang saya gunakan juga untuk mewakili teknologi, dan orientasi kampus mewakili "awal masuk".

Dari 6 bakal carek, dengan 37 kata kunci, membentuk 5 klaster. Berarti ada 2 bakal carek yang menjadi satu klaster. Artinya keduanya memiliki strategi yang beririsan.

Bakal carek tersebut yaitu Prof. Teguh yang memiliki 3 kata kunci,  2 di antaranya sama dengan Prof. Ova: edukasi dan software. Sementara 1 kata kunci yaitu sanksi sama dengan Prof. Sigit dan Prof. Deen. Karena lebih kuat terhubung dengan Prof. Ova, maka Prof. Teguh menjadi satu klaster dengan Prof. Ova.

Dari visualisasi di atas,  tidak ada kata kunci yang menjadi penghubung ke semua bakal carek. Namun ada beberapa kata kunci yang menghubungkan ke beberapa bakal carek. Kata kunci tersebut yaitu: software, sanksi (tegas), orientasi kampus, dan internalisasi. Artinya ada beberapa carek yang bersepakat, atau memiliki ide serupa dalam penegakan integritas akademik.

Kata kunci yang menghubungkan antar bakal carek di atas, menjadi kata kunci yang munculnya lebih dari 1x. 


Software disebut oleh 4 (66%) dari 6 bakal carek. Agaknya, sebagian besar carek menempatkan software pendeteksi (plagiarisme/kesamaan kata (kalimat)) sebagai bagian penting dalam pencegahan plagiarisme. Kata kunci ini menghubungkan Prof. Sigit, Prof. Ova, Prof. Deen, dan Prof. Teguh. 

Sementara itu, sanksi disebut oleh 3 bakal carek atau setengah dari total bakal carek. Tiga lainnya tidak menyebut secara tegas sanksi sebagai bagian dari proses pencegahan plagiarisme dan penegakan integritas akademik. Misalnya, Prof. Ali Agus lebih memilih kata: menegakkan peraturan secara fair dan adil. Kata kunci sanksi menghubungkan Prof. Sigit, Prof. Deen, dan Prof. Teguh.

Internalisasi dan orientasi kampus disebut 2 calon (Prof. Bambang, dan Prof. Deen). Sebenarnya kata kunci  orientasi kampus juga disebut oleh Prof. Sigit, namun menggunakan  bahasa yang lebih teknis: ppsmb. Agaknya, ada keinginan bakal carek untuk meneguhkan integritas bagi mahasiswa sejak awal mereka masuk. 

Sementara bagi dosen, sosialisasi dan internalisasi dilakukan melalui berbagai workshop, webinar, juga orientasi (awal) kerja.

Untuk kata kunci lainnya, yang hanya muncul 1x, dapat dilihat langsung pada visualisasi di atas, atau melalui versi online yang lebih interaktif di https://tinyurl.com/y59l9ml7

Beberapa catatan penting

Dari pengamatan saya, ada beberapa catatan penting pada strategi para bakal carek UGM 2022-2027 terkait penegakan integritas akademik.

  1. Semua bakal calon rektor memaparkan nilai integritas secara umum, kecuali terkait plagiat.
  2. Ada ide-ide yang sama dan saling terkait.
  3. Bakal carek cenderung fokus pada isu plagiarisme, padahal pada  Permendikbud Ristek, pelanggaran integritas, khususnya akademik, tidak hanya terkait plagiat. Mungkin hal ini disebabkan oleh kolom pertanyaan yang menuliskan "kecurangan akademik dan plagiat"  mengikuti kata  "integritas".
  4. Munculnya ide modul wajib atau kuliah wajib bagi mahasiswa. Ini menarik. Mungkin selama ini sudah dilaksanakan, namun sifatnya masih belum terintegrasi, dan tidak dengan standard yang sama.
  5. Muncul/disebutnya "perpustakaan" dalam proses penegakan integritas. Meski hanya disebut oleh satu bakal carek, namun tentu ini menarik
  6. Hanya ada satu bakal carek yang berani secara terang-terangan menyebut bahwa pimpinan dan dosen UGM harus menjadi role model.
  7. Ada satu bakal carek yang strateginya tidak memiliki point khas, sehingga posisinya menyatu pada klaster lain.

 

****

Bagaimana dengan tenaga kependidikan?

Ya. Seperti dikatakan Paijo di atas, tendik tidak masuk kategori sivitas akademika. Demikian dijelaskan pada pasal 1 nomor 13 Undang-undang Pendidikan Tinggi No 12 Tahun 2012. Tendik itu ketenagaan (pasal 69), dan merupakan penunjang (penjelasan pasal 69b). Namun, tentu saja tendik juga harus menjunjung integritas, termasuk juga menghindari kecurangan, dan plagiarisme.

Sebenarnya, selain penyebutan perpustakaan (yang digerakkan tendik) oleh Prof. Deen, ada bakal carek yang terang-terangan menyebut tenaga kependidikan dalam strategi menguatkan integritas akademik, yaitu Prof. Ova. Tendik, dalam hal ini dokumen hasil penugasan ke tendik disebut juga sebagai sasaran untuk dicek menggunakan software anti-plagiarisme. Meskipun penyebutan "software anti plagiarisme" sebenarnya juga tidak tepat benar.

Akhirnya, para bakal carek tersebut sudah benar. Dosenlah yang utama. Karena mereka civitas akademika. Contoh. Seluruh geraknya dilihat, dijadikan tolok ukur dalam bertindak, khususnya di kampus.

Diikuti oleh mahasiswa, dan juga tenaga kependidikan.

[[ sekian ]]

Tulisan lain terkait rektor UGM, dapat dilihat di sini








Monday, 18 April 2022

Wajah publikasi Prof. Jonner, guru besar baru bidang Ilmu Perpustakaan

Paijo kembali melanjutkan petualangannya. Setelah sebelumnya mencoba menyajikan publikasi 3 guru besar ilmu perpustakaan di Indonesia, kali ini Paijo hendak menelisik wajah publikasi per guru besar. Khususnya guru besar baru.

Dimulai dari Prof. Jonner Hasugian. Paijo melacak publikasi Pak Jonner dari beberapa sumber, di antaranya seperti tertulis di bawah ini. 

  1. Repo USU dengan kata kunci Jonner Hasugian, tahun dokumen antara 2010-2019
  2. Repo USU dengan kata kunci Jonner Hasugian, tahun dokumen antara 2020-2021
  3. Repo USU dengan kata kunci Jonner Hasugian, tahun dokumen antara 2020-2022
  4. Laman Google Scholar Jonner Hasugian https://scholar.google.com/citations?user=Miyd7poAAAAJ&hl=id&oi=ao
  5. Sumber lainnya, termasuk profil Scopus.
Hasil rekapnya disajikan pada tabel di bawah, atau klik ini untuk tampilan layar penuh. Oia, hanya ditampilkan publikasi antara 2010-2022, dengan asumsi paper/publikasi rentang tahun inilah yang digunakan sebagai syarat meraih guru besar. Data yang mengarah ke tugas akhir mahasiswa, kami keluarkan.

Kemudian, jika paper tidak menyebut secara jelas tahun terbit, maka identitas tahun diperoleh dari tampilan di laman repo. Sebenarnya bisa jadi tahun yang tampil bukan tahun publikasi dokumen, melainkan tahun upload ke repo. Tapi biarlah... wong ini cuma iseng saja, kok.

Ada pula paper yang tidak memiliki kata kunci. Untuk paper seperti ini, maka kata kunci ditambahkan sendiri. Ya, tentu sangat subyektif. Tapi tidak apa-apa. Kata kunci tambahan juga disertakan pada tabel di bawah. Bisa dikoreksi jika keliru.

Beberapa informasi di atas menjadi batasan dari analisis pada tulisan ini.

****



Berdasar daftar di atas, jika dikategorikan berdasar jenis publikasi, Pak Jonner memiliki 4 publikasi jurnal, 2 prosiding, 16 yang (kami) kategorikan repository, 1 laporan penelitian, dan 2 buku.

Dari 4 publikasi jurnal, 2 di antaranya jurnal nasional; serta 2 jurnal internasional yang salah satunya masih terindeks Scopus dan sisanya tak lagi diindeks Scopus (discontinued).

Kata kunci publikasi. Versi online klik di sini

Pak Jonner, pada pidato guru besarnya menyampaikan tema bibliometrik. Jika dilihat pada daftar publikasi di atas, melalui sebaran kata kunci, bibliometrik memiliki angka kemunculan 3. Hal ini berarti ada 3 karya publikasi Pak Jonner terkait bibliometrik. 

Bibliometrik memiliki angka kemunculan yang sama dengan repository dan information resources. 

Untuk link strength, bibliometrik kalah dengan information resources. Juga kalah dengan library use, gratification obtained, gratificatuon sought. Padahal 3 kata kunci terakhir ini occurrences (kemunculannya) lebih rendah dari bibliometrik. Hal ini berarti kajian bibliometrik yang dilakukan masih kurang variasi areanya (tidak banyak berhubungan dengan keyword lain).

Angka kemunculan 11 kata kunci teratas, dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Kemunculan kata kunci

Tiga karya Pak Jonner terkait bibliometrik yaitu:Analisis Bibliometrika terhadap Publikasi Hasil Penelitian AIDS di Indonesia, buku berjudul Bibliometrika, dan Analisis Sitiran Terhadap Disertasi Program Doktor (S-3) Ilmu Kedokteran Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Oia, satu lagi, yang agaknya juga berkaitan dengan bibliometrik: Faktor Dampak Jurnal dan Pengindeksan (Journal Impact Factor and Indexing). 


Kesimpulan
Karyo: "Trus kesimpulanmu apa, Jo?"
Paijo: "Aku tidak mau menyimpulkan, Kang!"

Agaknya Paijo tidak membuat kesimpulan. Dia lebih ke ingin menyajikan data, semampu dia. Idep-idep buat latihan nulis. 


Friday, 15 April 2022

Fakta-fakta pemilihan rektor UGM 2022

Pemilihan tahun ini untuk memilih rektor ke-17

Sejak awal berdiri, jika dihitung maka rektor yang akan terpilih pada tahun ini merupakan rektor ke-17

Peluang deret cantik dari FK

Bagi Bu Ova (calon dari FKKMK), ada peluang membuat deret angka cantik jika beliau berhasil jadi rektor. Deret tersebut yaitu: 1,7,17. 
Deret ini terbentuk karena rektor ke-1 dari FK, rektor ke-7 dari FK. Maka jika disandingkan jadi angka 1&7 = 17. 

Jika Bu Ova berhasil jadi rektor, juga akan menjadi rektor perempuan pertama yang terpilih melalui proses  sejak awal. Rektor perempuan sebelumnya, Bu Rita, tidak melalui proses penuh sejak awal.

Bagi FT, ini peluang hatrick

Pada dua periode terakhir, Rektor UGM dari FT. Tahun ini peluang hatrick terbuka luas. Di atas kertas, jika dipetakan fakultas, FT UGM punya paling banyak alumni di MWA. Dosen FT juga ada yang di Kemendikbud. Ya, siapa tahu diminta pendapat/pertimbangan. 😀

Mendikbud kayake masih punya suara. 

Bagi Pak Ali Agus, ini "pertarungan" ke-2, dan sangat mungkin kesempatan terakhir sebelum pensiun.

Perjuangan benar-benar harus dilakukan Pak Ali Agus. Sebagai finalis pada pemilihan periode 2017, tentunya Pak Ali punya motivasi lebih ketika kembali mencalonkan diri.

Berhentinya pola FISIPOL-FT

Sejak 1998, sampai Pak Panut, pola rektor UGM yaitu: FISIPOL-FISIPOL, FT, FISIPOL, FT, FT. Jika deret ini konsisten, maka tahun ini seharusnya FISIPOL.
Namun, FISIPOL absen pada pilrek tahun ini.

FT tetap konsisten dengan >1 calon

Beberapa periode pemilihan rektor, FT selalu memiliki pendaftar lebih dari satu orang.